April 2009


Perkembangan desain dan bisnis busana muslim di tanah air kita makin berkembang pesat. Para perancang dan pengusaha mode berlomba menampilkan karya mereka yang begitu bervariasi dengan tetap memenuhi syariat agama juga. Hal ini disebabkan karena tingginya permintaan masyarakat akan tersedianya busana muslim di pasaran.

APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia) secara berkala telah mempromosikan dan mengulas banyak tentang busana muslim dan muslimah sehingga menjadi sangat digemari dan lebih dibutuhkan masyarakat. Mayoritas masyarakat muslim di Indonesia, dalam berbusananya selalu berusaha mengikuti cara-cara yang diajarkan oleh agama, tidak hanya untuk sehari-hari, tetapi juga dalam kesempatan istimewa seperti saat menjalani upacara menjadi pengantin.

Buku Busana Pengantin Muslim terbitan Gramedia Pustaka Utama mungkin bisa memberikan alternatif dalam memilih busana pengantin muslim. Buku ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menentukan busana pengantin yang akan digunakan pada hari istimewa dan sakral tersebut. Busana Pengantin Muslim ini merupakan salah satu judul dari Seri Fashion Indonesia yang disusun oleh APPMI. Seperti judul-judul yang lain, buku ini dibuat tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan msayarakat muslim di Indonesia dalam berbusana tetapi juga sebagai usaha untuk memajukan dunia fashion Indonesia.

SIAPA bilang wanita berjilbab tidak bisa tampil gaya. Kini, aneka pilihan model jilbab dan busana pun bisa menjadi jembatan utama mempercantik wanita.

Terbukti, busana muslim yang ditawarkan perancang-perancang andal di Tanah Air kini mempunyai model dan pilihan warna yang beragam. Bahkan, penggunaan material bahannya pun tidak yang itu-itu saja. Setiap tahun selalu mengikuti perkembangan zaman, layaknya busana konvensional.

Up2date, merek busana muslim yang lagi naik daun, tidak kehabisan ide menciptakan inovasi baru dengan menggelar ajang peragaan busana muslim. Mengusung tema koleksi “Transconic”, up2date terlihat berbeda dengan busana muslim yang ada.

Koleksi up2date hampir tidak menggunakan unsur dekoratif berupa manik, payet, atau kristal. Tampilan produknya pun fokus pada bahan dan desain yang memberikan rasa nyaman, kesan modern, dan urbanis. Alhasil, busana muslimnya pun berpotensi mendukung mobilitas pemakainya.

Tia Wigati, Wakil Managemen PT Trimoda Uptodate, menjelaskan, koleksi up2date berpedoman pada konsep 3C, yakni chic, comfort, dan covered up.

“Kesan busana muslim selama ini dikenal terlalu kaku dan berat. Padahal, busana muslim bisa memberikan kenyamanan bagi si pemakai dan mengikuti perkembangan mode dengan memanfaatkan material kaos spandeks,” jelas Tia di sela-sela acara.

Selain menonjolkan penggunaan material bahan kaos spandeks, koleksi up2date juga masih konsisten menerapkan konsep padupadan dan gaya personal. Karakteristik ini tercermin dari 80 set busana yang ditampilkan di ajang peragaan busana di Hotel Four Seasons, Rabu (17/12/2008) sore.

Saat itu koleksi terbagi menjadi empat seri, seperti Iconic, Urban, Nature Spirit, dan Mutation. Iconic diintepretasikan melalui ikon mode berupa struktur asimetris, simbol yang berkaitan dengan mode seperti kancing, pita, ukuran, jarum, baik dalam aplikasi atau olahan baru. Sementara Urban dipancarkan dalam koleksi yang berkesan ringan, modern, praktis, dan berdaya pakai tinggi. Selain itu juga menonjolkan garis tailored, warna monokrom, dan warna dalam nuansa gelap serta pemakaian elemen atau aksesori dalam warna yang dikontraskan dengan warna busana.

Berlanjut ke seri Nature Spirit, yang kali ini diselaraskan dengan isu peduli lingkungan yang belakangan ini menjadi perhatian banyak pihak, termasuk dunia mode. Koleksinya bermain dalam palet warna natural, seperti moka, hijau lumut, merah bata, dan warna kayu. Untuk siluet busananya sendiri terkesan melebar dan ringan.

Seri terakhir, Mutation, menampilkan perubahan bentuk dari desain yang ada menjadi tampilan masa kini. Terlihat adanya penekanan konsep tumpuk serta penggunaan warna-warna matang seperti biru laut, kunyit, dan merah. Bahkan, bahan yang digunakan adalah voile, suede, dengan sedikit aksen bahan bermotif.

“Kami senang bisa menciptakan inovasi baru untuk koleksi busana muslim. Hanya dalam perjalanan mengembangkan bisnis ini, kami juga mempunyai kendala yang cukup besar. Kendalanya seperti harga bahan baku yang terus mahal dan produksi garmen yang belum stabil,” sebutnya.

Kendati demikian, Tia merasa senang karena selama dua tahun ini koleksi up2date bisa diterima masyarakat lokal maupun luar negeri.

“Kami berusaha memberikan pilihan busana yang mengikuti selera mereka. Meski kenyataannya selera masyarakat lokal dan luar negeri sangat berbeda. Baik dari segi pemilihan desain, warna, maupun pemanfaatan aplikasi busana,” pungkasnya.

(tty)

okezone.com

PENETRASI busana muslim semakin agresif terlihat, bukan hanya di lini busana kasual, juga di lini busana pesta. Evening wear pun menjelma menjadi high fashion, konsep eksklusif busana muslim.

Maraknya busana muslim bergaya mewah, mirip gaun malam, menunjukkan semakin terkikisnya stereotip old fashion pada busana muslim saat ini. Konsep busana pesta muslimah pun terbentuk, menjadi celah pasar bagi desainer, bukan hanya perancang busana muslim, juga desainer busana kontemporer. Penggarapan moslem evening wear ini terlihat marak di berbagai pergelaran busana, baik pertunjukan tunggal maupun kompilasi beberapa desainer sekaligus.

Tuty Adib, dalam peluncuran brand Bilqist di Pasaraya Grande, Jakarta , beberapa waktu lalu, mempersembahkan rangkaian busana muslim glamor dalam cutting simpel. Mewah, difokuskan pada permainan detail, seperti halnya payet, kristal, maupun manik-manik. Lainnya, Tuty memusatkan pada warna. Penggunaan palet catchy, seperti merah, tembaga, ataupun hitam yang disemarakkan detail kilau.

Di perhelatan Jakarta Fashion Week-Festival Mode Indonesia (JFW-FMI) beberapa waktu lalu, moslem evening wear juga terlihat mendominasi koleksi para desainer, pun di hajatan Fashion Exploration 2009, Desember lalu. Hannie Hananto, Merry Pramono, Jenny Tjahyawati, Savitri, Monika Jufri, dan Iva Latifah mempersembahkan rangkaian busana muslim untuk pesta ataupun acara formal. Malah, Irna Mutiara mempersembahkan full range collection busana pengantin muslim, sementara Jenny dan Merry menghadirkan koleksi busana pengantin sebagai grand finale.

Dari situ, kita bisa melihat betapa jauhnya perkembangan busana muslim sejak tahun 1980-an, di mana busana muslim masih dipandang sebelah mata. Kini, agresivitas busana muslim malah mendekati para perancang busana kontemporer.

Contohnya di pergelaran Islamic Fashion Festival (IFF). Di hajatan mode islami yang diprakarsai oleh Dato Raja Rezza Shah tersebut, desainer muda Indonesia berlomba-lomba menciptakan baju muslim dengan genre yang berbeda. Bila selama ini pergelaran busana muslim lebih banyak mengetengahkan koleksi sehari-hari alias daily wear, di IFF justru yang lebih ditonjolkan adalah busana malam atau evening wear.

Biyan, Sebastian Gunawan, Musa Widyatmodjo, Barli Asmara, Adesagi, Andy Saleh, dan Defrico Audy, nama-nama yang biasanya berkibar di ranah mode kontemporer, menghadirkan koleksi busana muslim penuh gaya, bersanding dengan desainer-desainer kenamaan Malaysia.

Kendati berbasis rancangan busana kontemporer, rangkaian jilbab dan busana muslim yang disajikan ke atas catwalk bisa dibilang masih mengikuti kaidah islami, dalam artian tidak transparan, tidak ketat memeluk tubuh, dan menutupi aurat. Dengan piawai, mereka menghadirkan ragam busana penuh detail namun tidak lepas dari nafas etnik.

Mereka meramu kain-kain tradisional Indonesia menjadi koleksi busana yang mengikuti kaidah islami tapi tetap berkesan kontemporer. Sebut saja Biyan yang menghadirkan rangkaian gamis, abaya, juga tunik panjang dalam motif floral berornamen cantik. Tidak jauh berbeda dengan Sebastian Gunawan yang menyajikan koleksi floral dengan sentuhan corak paisley dan embellishment kristal.

Barli, Adesagi, dan Shahreza Muslim sepakat menyuguhkan busana muslim bergaya feminin lewat permainan draperi, lace, serta detail ruffles. Sementara Defrico Audy menyodorkan nuansa eksotis melalui warna-warna solid seperti hijau, marun, ungu, serta biru yang dihiasi tassel, tali kepang, juga teknik origami. Andy Saleh mengeksplorasi keindahan sarung Bugis yang ditampilkan dalam potongan gaun malam nan anggun. Tidak lagi tampak kesan kuno dan monoton yang biasanya identik dengan busana muslim.

Para perancang pun tak ragu menyodorkan barisan warna yang lebih meriah. Lupakan tone-tone kalem yang biasanya menjadi warna dominan busana muslim. Sebaliknya, ragam warna menyeruak agresif. Merah, hijau, kuning, oranye, ungu, serta biru silih berganti menyambangi catwalk, bergantian dengan emas, perak, dan hitam.

Founder & Chairman IFF Dato Raja Rezza Shah mengungkapkan, pergelaran reguler yang dihelat di Kuala Lumpur, Jakarta, dan Dubai itu memang dimaksudkan untuk memperkenalkan islamic fashion pada dunia internasional. Perkenalan ini pun tidak dilakukan dengan cara gamblang, melainkan melalui pendekatan halus, tanpa paksaan, yang dikemas dalam bahasa mode nan universal. “Yang terpenting masyarakat dunia tahu mengenai islamic fashion. Bahwa busana muslim pun bisa mengikuti mode,” ucapnya.

Rezza membebaskan para desainer yang terlibat untuk menginterpretasikan islamic fashion sesuai visi masing-masing. “Tidak harus tertutup semua. IFF menghadirkan gaya yang bervariasi, baik yang hanya ditutupi selendang atau tertutup sepenuhnya,” jelas Rezza.

(sindo//tty)

TIDAK bisa dimungkiri, musik dan mode memiliki kedekatan tersendiri. Musik memengaruhi mode dan begitu pula sebaliknya.

Busana muslim tidaklah lengkap tanpa jilbab. Bahkan, aksesori ini menjadi bagian terpenting dalam menciptakan penampilan yang berbeda. Seperti busana, mengenakan jilbab pun punya trik tersendiri, seperti apa?

Melihat seorang muslimah yang mengenakan busananya dengan baik, tentulah memberikan perasaan yang teduh dan damai. Terlebih saat digunakan bersama padanan jilbab yang menawan. Sekarang ini jilbab maupun kerudung bukan lagi sekadar penutup kepala, melainkan bagian dari mode berbusana muslim itu sendiri. Karenanya, cara penggunaannya pun semakin beragam.

Coba saja tengok gaya Inneke Koesherawati maupun Okky Asokawati saat mengenakan jilbab. Padanannya yang serasi dengan baju muslim, menjadikan penampilan semakin cantik. Namun, tak perlu khawatir, Anda pun bisa jadi secantik mereka.
Caranya pun tidak sulit, cukup menggunakan teknik padu padan sederhana untuk menjadikan penampilan Anda semakin menawan.

Jurus pertama, siapkanlah beberapa jilbab dalam warna natural, layaknya putih, hitam, coklat. Sebagai tambahan, sediakan juga jilbab dalam warna dan corak semarak, semisal merah, kuning maupun motif floral ceria. Hal ini akan membantu Anda menyiasati keserasian jilbab dengan busana yang akan dikenakan.

Bahan jilbab atau kerudung pun harus dipertimbangkan. Sekarang ini, banyak tersedia jilbab praktis dari bahan kaus, lycra, linen, maupun poliester, selain kain yang semakin memudahkan Anda berkreasi dengan jilbab. Jangan lupa siapkan juga aksesori lain yang dapat mempermanis penampilan, seperti bros, jepit, juga jarum pentul dan peniti untuk memperkuat letak jilbab.

Tahap selanjutnya membutuhkan imajinasi dan kreativitas Anda. Bila merasa tidak memiliki ide brilian, contek saja majalah mode yang banyak menawarkan bentuk jilbab kreasi nan cantik, dan mulailah berkarya. Sulit melakukannya? Tidak masalah, di bawah ini tersedia beberapa panduan gaya sederhana yang bisa Anda ikuti.

1. Gaya Kasual

Gaya ini tidak menuntut Anda berkreasi berlebihan. Bahkan, tekniknya tergolong sangat mudah karena ditujukan untuk penggunaan sehari-hari. Jika yang menjadi pilihan Anda adalah kerudung kain, maka Anda bisa membentuk layaknya gaya bohemian masyarakat gipsy. Sisanya, bisa dibuat serupa pita atau dibiarkan menggantung di sisi leher sehingga menyerupai scarf. Lainnya, Anda bisa menambahkan jepit di bagian belakang layaknya bentuk ikat ekor kuda.

2. Gaya Sportif

Teknik ini lebih mudah dilakukan bila menggunakan kerudung berbahan kaus. Anda hanya tinggal menarik dan mengumpulkannya di belakang tengkuk, lalu menjepitnya dengan bros ataupun peniti sehingga bagian leher tidak menggembung. Sebagai aksesori, tambahkan lilitan kain maupun bandana dengan motif seru untuk mempercantik penampilan.

Alternatif lain, tambahkan kapucon di atas jilbab untuk memberikan sentuhan gaya jilbab terkini. Gaya ini terlihat simpel, bahkan cenderung funky, yang menghadirkan kesan dinamis secara praktis.

3. Gaya Feminin

Di sini Anda dituntut untuk sedikit berkreasi. Gunakan kerudung kaus polos sebagai dasar, hanya sisa jilbab dikumpulkan di sisi leher dan ditahan menggunakan peniti. Selanjutnya, ambil kerudung kain bermotif dan bentuk segitiga. Bentuk menjadi jilbab ala gipsy, namun pertemukan sisanya dengan jilbab kaus tadi. Satukan keduanya dan bentuk serupa korsase dengan cara melilitkannya. Sematkan jarum pentul sebagai penguat, untuk sentuhan terakhir tambahkan bros cantik ataupun jepit berhias permata.

4. Gaya Glamor

Pada gaya ini, unsur payet memegang peranan penting untuk menghadirkan kesan mewah. Namun ingat, sesuaikan juga dengan busana Anda. Jangan sampai terkesan berlebihan dengan taburan payet di seluruh bagian busana.

Pilih jilbab dengan detail payet yang terpusat di satu bagian saja, seperti di sisi ataupun bagian depan. Anda juga bisa memadukannya dengan jilbab yang berhiaskan bordir. Detail tersebut justru semakin menegaskan kesan feminin.

Sebagai aksen, Anda dapat membuat bentuk bunga atau pita di sisi leher dengan bantuan bros. Pilihan lainnya, gabungkan kerudung dasar tadi dengan selendang panjang berumbai yang dililit dan ditumpukkan di atasnya. Bila ingin praktis, tambahkan saja sehelai pashmina dan kenakan secara simpel untuk memberi sentuhan yang berbeda.

(Koran SI/Koran SI/tty)