August 2008


Sulha Handayani, Kontributor INILAH.COM
INILAH.COM, Jakarta – Untuk pertama kali, Indonesia, Malaysia, dan Pakistan memperkenalkan busana muslim pada dunia dalam satu ajang. Ketiga negara ini bermaksud mengangkat busana muslim ke mata dunia.

Ajang itu bernama Islamic Fashion Festival, yang untuk pertama kali digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan menampilkan karya 15 desainer dan karya dari sekolah desain asal Malaysia.

 Dari Indonesia, desainer yang tampil adalah Herman Nuary, Iva Lativah, Erni Kosasih, Ramli, Itang Unasz, Ghea Panggabean, Samuel Watimena dan Sebastian Gunawan.

Kemudian dari Malaysia hadir Tom Abang Saufi, Kapas Couture, Carven Academy of fashion, Radzan Radziwill. Melvin Lam, Rozi dan Bernard Chandran. Sedangkan dari Pakistan tampil desainer Deepak Perwani.

 Setting panggung tampil mirip dengan panggung fashion week di Milan. Tinggi panggung hanya beberapa centimeter dari lantai.

 Para petinggi Malaysia, tamu undangan terbatas, hadir dalam acara yang berlangsung sekitar dua jam itu. Sebastian Gunawan sebagai wakil dari Indonesia menutup keseluruhan rangkaian acara.

 Dilanjutkan dengan dinner yang dimeriahkan oleh dua tamu kehormatan asal Indonesia, Sebastian Gunawan dan Biyan. Masing-masing menampillan lima busana muslim hasil rancangan mereka, dan satu dari lima busana muslim itu dilelang untuk didonasikan pada Yayasan Harapan Kanak-Kanak Malaysia.

 Adjie

Sementara itu, di tempat terpisah belum lama ini Adjie Notonegoro menghadirkan koleksi teranyarnya. Desainer yang pernah mendapat gelar penghormatan dari Museum del Traje di Madrid karena kebayanya yang sangat unik itu mengajak organisasi Hak Kekayaan Intelektual agar kebaya dapat diakui sebagai busana nasional Indonesia.

 Peragaan bertema Leading Lady ini menampilkan koleksi kebaya dan gaun yang keduanya juga dilengkapi busana pengantin. Kebayanya tampak sangat beragam, berlengan pendek ataupun panjang yang menyerupai gaun gaya 1920-an. Semuanya terbuat dari untaian payet yang gemerlap dan mewah.

 Kebaya pengantin hadir dalam paduan dan adaptasi pengantin internasional dan barat seperti penggunaan kerudung atau veil dengan kebaya yang dimodifikasi sangat modern.

 Adjie masih mempertahankan gaya bawahan dari kebaya itu tidak jauh dari tradisional, tetapi kedua kombinasi ini terlihat cantik dan menarik. Untuk desain gaun pengantinnya, Adjie membautnya lebih beragam dengan tampilan rok mini ataupun gaya tumpuk.

 Tampilan couture yang sangat bervariasi hadir dengan warna-warna berani. Ia ingin menampilkan perempuan dengan sisi berbeda. Warna-warna cerah menutupi sebagian besar garis-garis desainnya yang tampak sederhana.

Berbagai pertemuan yang merupakan benang merah koleksi kali ini, menciptakan gaya berpakaian baru untuk kaum perempuan tahun ini. Peragaan ini juga sebagai sebuah rendezvous Adjie kepada para pengagum setianya.

Menjelang Ramadhan, para perancang busana muslim bersiap-siap menggelar sejumlah karya mereka. Acara ini juga diikuti oleh perancang yang tidak terbiasa mendesain busana muslim. Pilihan pun kian beragam, dari yang sederhana hingga yang glamor.

Glamorous Islamic
Sudah dua kalinya Jakarta menjadi tuan rumah gelaran acara bergengsi IFF (Islamic Fashion Festival) dari tiga ibu kota, yaitu Kuala Lumpur, Jakarta dan Dubai.

Sejak awal Islamic Fashion Festival ditujukan untuk menghadirkan pilihan busana bernuansa Islami yang penuh gaya dan mudah dikenakan kepada masyarakat pada umumnya, disesuaikan dengan kaidah kesederhanaan dalam paduan berbusana kaum muslim. Dan salah satu tujuannya adalah untuk menetapkan Kuala Lumpur, Jakarta dan Dubai sebagai pusat mode Islami seperti halnya London – Paris dan New York sebagai pusat mode dunia.

Acara yang menghadirkan perancang-perancang handal dan berbakat dari dua Negara, yaitu Indonesia dan Malaysia, antara lain Itang Yunasz, Sebastian Gunawan, Biyan, Musa Widiatmodjo, Ade Sagi, dan Barli Asmara, serta Dato’ Tom Abang Saufi, Datin Syarifah Kirana, dan Albert King.

Bertempat di Dharmawangsa Hotel, IFF hadir selama 2 hari, Selasa dan Rabu (22/23). Variasi gaya dan kreativitas berpadu selama IFF berlangsung, menampilkan peragaan busana penuh ide. Biyan memiliki tema “The Sacred Opulance” hadir dengan tunik berwarna biru dan abu-abu dipadu dengan detil payet kristal yang membuat keseluruhan terlihat anggun.

Celana serut dan balon bergaya Aladin banyak terlihat pada koleksi Biyan. Sedangkan Dato’ Tom Abang Saufi, mengetengahkan tema “Amber”, yang banyak memainkan detil ruffle, payet dan sulaman, pada busana gamisnya.

Itang Yunaz membawa perbedaan dalam gelaran busana muslim kali ini, dengan tema “Spiritual Journey” ia menampilkan mukena yang sangat indah didominasi warna putih yang begitu elegan berbahan sutra dan sifon, berdetil bunga-bunga yang akan membuat ibadah lebih khusuk dan damai.

Beda dengan perancang asal Malaysia, Albert King, yang tampil sangat glamor dengan tema “Al Mutheerah”. Busana yang ditampilkan berbahan sifon, organza, dengan didominasi warna -warna hitam, merah dan emas. Payet bunga-bunga, bulu-bulu, flower prints dan rajutan, juga menjadi andalan perancang satu ini.

Di akhir acara, Sebastian Gunawan hadir dengan “Peace Of Paisley ” yang banyak menghadirkan busana muslim dengan model modifikasi poncho dan empire gown dengan detil payet dan Kristal. Warna yang ditampilkan juga beragam dari perak, abu- abu, hitam dan gold.

Acara ini juga dihadari oleh Raja Perak Raja Nor Mahani Binti Raja Shahar Shah Dari Malaysia dan dimeriahkan oleh penampilan Reza Artamevia.

Kini, penggunaan busana muslim tidak hanya terbatas pada acara pengajian atau hari raya umat Islam saja. Menutup rapat seluruh bagian tubuh yang dianggap aurat telah menjadi gaya berbusana sebagian besar wanita muslim di tanah air.

Meski demikian keinginan para muslimah untuk menutup diri tersebut tak terlepas dari keinginan untuk tetap tampil modis dan penuh gaya. Hal itu mendorong para perancang untuk terus berkreasi mencari bentuk-bentuk baru yang kaya alternatif. Sehingga bila bicara tentang busana muslimah, pilihan tidak hanya terpaku pada gamis, busana bergaya tunik atau abaya penuh payet, bermanik, dan berbordir.

Para perancang yang tergabung dalam Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) selama beberapa tahun terakhir ini rutin menggelar peragaan busana untuk menyajikan tren mode busana muslim terkini. Tahun ini, 10 perancang APPMI menggelar acara bertajuk Sutera Ramadhan – The New Idul Fitri 2008 Collection.

Dalam peragaan yang berlangsung di The Cascade Lounge Hotel Mulia, Jakarta (21/7), ditampilkan busana berpotongan tunik hingga bergaris empire line. Meski serba tertutup tapi para perancang tetap mengedepankan unsur kenyamanan dan kepraktisan, sehingga berkesan ringan.

Salah seorang desainer, Nuniek Mawardi, anggota APPMI dari Jawa Barat, menampilkan busana muslim bertema “Exo Playism” yang terinspirasi dari keindahan tenun ikat Nusa Tenggara Timur dan warna-warni fantastik lukisan Mesir Kuno. Kombinasi warna tenun ikat NTT tampil dalam paduan toska, hijau, biru, dan ungu dengan merah, fuschia, kuning, dan oranye.

“Saya memang ingin menampilkan busana yang dinamis, nggak berlebihan, tapi tidak minimalis,” katanya disela acara pergelaran. Busana yang ditampilkan pun terlihat chic, berupa tunik-tunik selutut yang dipadankan dengan legging rajutan yang unik.

Desainer lain yang sore hari itu menggelar rancangannya, diantaranya Hannie Hananto, Jeny Tjahyawati, Merry Pramono, Adi Medina, Toera Imara, Ade Listiyani, Lia Afif, Nuniek Mawardi, Herman Nuari, dan Raizal Rais.

Islamic Fashion Festival

Sementara itu, selang satu hari setelah APPMI, digelar Islamic Fashion Festival (IFF) yang berlangsung dua hari di hotel Dharmawangsa, Jakarta. Parade busana muslim yang kreatif, gaya, sarat detail, ditampilkan oleh perancang dari Indonesia dan Malaysia.

Menurut ketua panitia, Dato Raja Rezza Shah, IFF merupakan ajakan halus tanpa paksaan dalam menghimbau para muslimah untuk menutup diri. Karena itu, pilihan busana yang ditawarkan pun bervariasi dari yang memiliki ketertutupan minimal berupa selendang dan terlihat rambutnya, hingga yang tertutup maksimal.

IFF diikuti 20 perancang. Dari Indonesia ada Biyan, Itang Yunasz, Sebastian Gunawan, Merdi Sihombing, Sekolah Mode ESMOD, Barli Asmara, Samuel Wattimena, Musa Widyatmojo, dan Meeta Fauzan. Sedangkan Malaysia mengikutkan perancang Albert King, Datin Sharifah Kirana, Iszal Citra, Andy Salleh, Aktif Bestari, Tengku Fara, Tangoo, Shareza Muslim, Defrico Audy, Adesagi, dan Calvin Thoo.

Pada hari kedua penyelenggaraan IFF, beberapa desainer mengangkat keunikan budaya lokal dalam detail ornamen, bahan, atau ide dasar yang menjiwai seluruh desainnya. Seperti yang ingin ditampilkan Merdi Sihombing dengan Songket Collection sebagai pembuka hari kedua.

Model baju kurung dari kain songket warna ungu muda terlihat cantikdengan kerudung putih. “Koleksi ini memang ide dasarnya mengangkat apa yang dari alam Indonesia diadaptasi untuk baju muslim untuk acara pesta,” ujar Merdi kepada Kompas.com.
 
Uniknya, teknik pembuatan detil ornamen swarovski pada tenun dilakukan bersamaan saat proses tenun (wave-in), biasanya hanya dijahit pada bahan tenun yang sudah jadi. “Dari segi pewarnaan juga alami dengan akar, batang, daun dari tanaman-tanaman yang ada di tanah air,” jelasnya.
 
Teknik tersebut, menurut Merdi, belum pernah digunakan di Indonesia bahkan di dunia. “Pemilihan benang untuk selendang ulos pun saya pake bahan yang ringan, selama ini kan ulos selalu berbahan kaku dan tebal. Saya ingin ciptakan ulos yang nyaman dipakai,” ungkapnya

Lain lagi dengan desainer muda Barli Asmara yang lebih menekankan jiwa muda, meskipun ide karyanya juga berawal dari tenun Bali. Ia menampilkan model empire line, rok bertumpuk-tumpuk dengan detil ornamen kristal swarovski dalam balutan warna lembut seperti abu-abu dan peach.

Selain busana muslim, ditampilkan pula pakaian renang. Desain pakaian renang perempuan muslim dengan warna-warna modern juga tampak dalam karya Aktif Bestari yang ready to wear.

Karya para desainer dari berbagai negara tersebut menunjukkan padu padan dan pilihan motif yang tak biasa ternyata bisa memberi inspirasi luar biasa. Begitulah Islamic Fashion Festival 2008 kali ini, inspirasi dari budaya dan jiwa muda melahirkan spirit baru bagi dunia fashion muslim dengan pilihan tema beragam.
Lusia Kus Anna,Maya Saputri

Busana muslim tidak lagi hanya berfungsi sebagai penutup aurat namun juga sebagai perhiasan untuk memperindah penampilan di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.

Busana muslim dan muslimah kini semakin popular bahkan menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia. Bersama negara tetangga Malaysia, Indonesia menjadi barometer mode busana muslim, yang diakui dan diapresiasi oleh dunia internasional.

lndustri busana muslim lndonesia sangat ditentukan oleh kreativitas para perancang busana (fashion designer). lkatan perancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat secara rutin setiap tahun menggelar milad yang menampilkan kreasi terbaru para anggotanya.

Tema rancangannya yang selalu mengangkat beragam kekayaan budaya mulai dari batik, songket, sarung, dan lainnya. Gaya rancangan pun disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya, baik untuk acara sehari-hari yang bergaya casual atau formal maupun acara khusus seperti pesta dan pernikahan.

Buku “Tren Busana Muslim Indonesia” ini berisi puluhan ide rancangan dari desainer IPBM, yang dapat Anda pilih dan manfaatkan untuk menambah koleksi busana muslim Anda.

Muslimah yang ingin mengenakan busana penganti muslim kini semakin banyak. Kebutuhan akan busana pengantin muslim yang menutup rapat aura pengantin muslimah pun semakin besar. Tak heran jika busana pengantin muslim kini menjadi tren tersendiri yang membutuhkan desain-desain terbaru seperti yang dimuat dalam buku cantik ini.

Memuat beragam desain busana pengantin muslim, buku ini adalah panduan tepat bagi para muslimah maupun perias pengantin muslim. Di dalamnya termuat lebih dari seratus busana pengantin muslim idaman setiap pengantin muslimah.

Aneka siluet kebaya dan gaun pengantin, mulai dari yang berwarna putih bersih (ivory), hingga cerah, tersaji penuh gaya.

Berbusana muslim tak pernah mampu menyembunyikan kecantikan seorang wanita. Busana muslim justru makin menegaskan kecantikan, kelembutan, kesalihan, dan pesona wanita.

Saat ini di pasaran telah tersedia berbagai model busana muslim, mulai dari model gamis, setelan blus dan celana yang dipadu dengan kerudung. Bentuk kerudung pun sangat bervariasi, ada yang harus dibentuk terlebih dahulu maupun instan atau siap pakai yang praktis. Dipercantik dengan aneka aksesori pelengkap seperti syal, scarf, bandana, dan pashmina.

Pashmina merupakan salah satu varian gaya berkerudung yang bisa menggunakan seluruh jenis kerudung dan pelengkapnya dengan kreasi tak terbatas. Temukan satu dari 30 tampilan gaya kerudung pashmina yang paling tepat untuk gaya busana muslim Anda dalam buku ini. Langkah-langkah teknik pemakaian yang diberikan akan memudahkan Anda mempraktikkannya sendiri.

Seri Kreasi 100 Jilbab Annisa berisi 100 kreasi terpilih dari para peserta Lomba Kreasi 1000 Jilbab dari Griya Muslim Annisa. Seri ini terdiri atas 4 judul buku, yang masing-masing memuat 25 gaya jilbab:
1. Harmony: Kreasi Apik Jilbab Annisa
2. Simphony:Tampilan Cantik Jilbab Annisa
3. Melody: Gaya Asyik Jilbab Annisa
4. Rhapsody: Aksi Serasi Jilbab Annisa

Harmony, Simphony, Melody, dan Rhapsody adalah empat sekawan dalam terminologi musik yang menggambarkan berpadunya berbagai nada dalam keserasian yang bernilai tinggi dan merdu di telinga. 100 kreasi jilbab yang ada dalam keempat buku ini pun sangat beragam yang muncul dari 100 kreator. Setiap jilbab merupakan buah pemikiran yang unik, kreatif, dan mumpuni sesuai syar’i. Meskipun demikian semua bisa berpadu dalam keserasian busana muslim yang mengagumkan dan indah dipandang. Setiap buku dalam seri ini terbagi atas tiga bagian:

+ Sweet, Simple, dan Elegant
Berisi kreasi jilbab yang simpel dan mudah dikenakan, namun tetap terlihat manis dan elegan. Cocok dikenakan untuk kegiatan sehari-hari, kuliah, atau menghadiri acara setengah resmi.

+ Festive, Glamour, dan Extravagant
Berisi kreasi jilbab yang glamor dan lebih mewah, yang sangat tepat untuk keperluan pesta, resepsi, hingga menjadi pengantln

+ Creative
Merupakan bagian yang memberi apresiasi terhadap kreativitas para kreator yang menciptakan materi tambahan jilbabnya dengan sangat kreatif namun berdaya pakai tinggi.

Pilihlah aneka kreasi jilbab yang ada di dalam seri ini sesuai kebutuhan dan keinginan Anda, dan jadilah bagian dari gaya hidup Islami yang syar’i.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,480 other followers